Kekapitalan Bentuk Sapaan

Avatar of Ditulis oleh Bonefasius Rampung
Kekapitalan Bentuk Sapaan

Dalam praktik berbahasa tulis, kita sering menjumpai kata bapak, ibu, kaka, adik, paman, tanta, nona, nyonya, ayah, bunda, opa, oma, kakek, nenek, tuan, dsb. Dalam praktik berbahasa lisan atau berkomunikasi sehari-hari, bentuk-bentuk seperti ini juga sering dipakai. Makna sederetan kata ini bisa dirunut pada Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Bagi pengguna bahasa yang memadang bahasa secara pragmatis, kehadiran dan penggunaan sederetan kata tersebut tidak perlu disikusikan sejauh penggunaannya tidak menyalahi kaidah komunikasi (berbahasa yang baik). Lain halnya bagi pengamat bahasa, penggunaan sederetan kata seperti ini dalam praktik berbahasa tulis berpotensi menimbulkan masalah terutama ketika cara menuliskan kata-kata tersebut mengalami variasi. Penjelasan terkait variasi bentuk penulisan hanya bisa diberikan dengan menggeser paradigma kebahasan dari yang sifatnya pragmatis (berbahasa baik) menjadi bahasa berkaidah (berbahasa yang benar). Pergeseran yang menampilkan distingsi atau pemisahan yang tegas dan jelas antara komptensi komunikatif dengan komptensi linguistik. Bahasa yang baik itu ranah kompetensi komunikatif sedangkan bahasa yang benar itu menjadi ranah komptensi linguistik.

Dalam satu tulisan di koran, misalnya, kita temukan kalimat (a) dan (b) berikut,

a. Semua Bapak dan Ibu Dewan menerima usulan perubahan anggaran.

b. Semua bapak dan ibu Dewan menerima usalan perubahan anggaran.

Makna kalimat (a) dan (b) dalam konteks komunikasi itu memang persis sama tetapi jika dikaitannya dengan kepatuhan pada kaidah kebahasaan (kompetensi linguistik) maka dari dua bentuk itu ada yang dikatakan sebagai kalimat yang baik dan ada pula yang dikatakan benar sekaligus baik. Kalimat baik tidak selalu benar, tetapi kalimat benar sekaligus menjadi kalimat yang baik. Mencermati kutipan (a) dan (b) di atas sebenarnya kita berhadapan dengan masalah perbedaan cara benulis kata Bapak dan Ibu (berhuruf kapital) dan kata bapak dan ibu (berhuruf kecil). Pertanyaannya, manakah dari kedua bentuk itu yang berkategori benar (sesuai dengan kaidah linguistik)?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita kembali pada sedertan kata pada awal ulasan ini. Kata bapak dan ibu ada dalam deretan kata tersebut yang berarti pula kata-kata itu dapat dikategorikan sebagai kata sejenis.  Deretan kata tersebut berjenis nomina (kata benda). Kata “bapak” dan “ibu” dalam bahasa Indonesia termasuk dalam kategori kata benda nomina yakni kata yang digunakan untuk menyebutkan orang, benda, tempat, atau konsep yang dapat dikenali dengan indra atau dengan pikiran. 

Kata “bapak” merujuk kepada seorang laki-laki yang menjadi ayah atau figur yang dihormati dalam keluarga atau masyarakat. Kata “ibu” merujuk kepada seorang perempuan yang menjadi ibu atau figur yang dihormati dalam keluarga atau masyarakat. Keduanya dipakai untuk menyebutkan figur orang tua atau orang yang lebih tua dengan tingkat kehormatan dan kesopanan tertentu dalam berkomunikasi.  Dalam pengertian popular dua kata tersebut dikenal sebagai kata “sapaan” dan menyatakan hubungan “kekerabatan”.

Pemakaian kata sapaan dalam tulisan merupakan bagian penting dalam komunikasi yang menunjukkan tingkat keformalan, hubungan sosial, dan adat istiadat tertentu dalam budaya. Kata sapaan digunakan untuk menyapa atau memanggil orang lain dengan cara yang sopan dan sesuai konteks.  Kata sapaan umunya berfungsi menunjukkan penghargaan dan kesopanan, menggambarkan kedekatan atau hubungan, (3) menyatakan ekspresi keakraban. 

Penulisan kata sapaan dan kata yang menyatakan hubungan kekerabatan dalam tulisan sangat penting dalam kaitannya dengan prinsip kesantunan berbahasa sesuai dengan norma-norma sosial. Kaidah penulisan kata sapaan dan bentuk kekerabatan yang benar adalah (1) kata sapaan ditulis dengan huruf kapital (kapitalisasi) di awalnya jika digunakan secara langsung untuk menyapa orang tersebut. Misalnya, “Selamat pagi, Bapak Tony,” kata “bapak” ditulis dengan huruf kapital, (2)  tidak dipisahkan tanda koma dari nama orang yang disapa kecuali jika diikuti oleh kata lain yang membutuhkan pemisahan seperti nama atau pertanyaan. misalnya, “Selamat siang, Bapak Tony, kapan datang dari Semarang?”, (3) ditulis dengan huruf kapital jika yang disapa atau relasi kekerabatannya pasti dan jelas (bukan yang umum). 

Merujuk pada kaidah seperti ini, jika kita kembali pada kutipan (a) dan (b) maka kita bisa memastikan bahwa penulisan kata “Bapak, Ibu, bapak, ibu) pada kedua kalimat itu tidak sesuai dengan kaidah. Kalimat (a) meskipun ditulis dengan memakai huruf kapital tetap salah karena dalam konstruksi kalimat itu kata “Bapak dan Ibu” bersifat umum, rujukannnya umum tidak menentu. Hal yang sama terjadi pada kalimat (b) selain tidak memakai huruf kapital juga rujukannya masih umum tidak menentu.

Kita coba membandingan pemakaian kata bapak, ibu, kakak, adik pada kalimat  (a) dan (b) sebelumnya dengan kata yang sama pada kalimat (c) dan (d) berikut,

a. Semua Bapak dan Ibu Dewan menerima usulan perubahan anggaran.

b. Semua bapak dan ibu Dewan menerima usulan perubahan anggaran.

c. Semua bapa dan ibu dewan menerima usulan Bapak Simon terkait perubahan anggaran.

d. Banyak orang bapa dan ibu mengatakan bahwa Andreas menjadi Kakak yang baik untuk Bernard Adiknya.

Kata bapa dan ibu pada kalimat (c) dan kalimat (d) dengan huruf kecil “benar secara kaidah” karena bukan kata sapaan dan menyatakan relasi kekerabatan. Sebaliknya, kata Bapak (berhuruf kapital) yang merujuk pada seorang bermana Simon jelas menyatakan kata sapaan karena rujukannya jelas, menetu (Simon). Hal yang sama kata Kakak dan Adik (berhuruf kapital) pada kalimat (d) itu bernar dan berterima secara kaidah karena menunjukkan relasi kekerabatan yang jelas antara Andreas dan Bernard sebagai kakak dan adik.

Semoga ulasan ini membantu siapa saja dalam menggunakan dan menuliskan kata berbagai kata berupa “sapaan” dan yang menyatakan relasi kekerabatan. Itulah yang kami harapakan dari bapak, ibu, kakak, adik, saudara, saudari, om, tanda, opa, dan oma pencinta bahasa.