KrebaDi’a.com Berkiprah: Lisan Melenyap, Tulisan Menetap

Avatar of Frans Anggal
FRANS ANGGAL

Oleh Frans Anggal

Pada era teknologi digital masa kini telah terjadi tiga lompatan besar dalam perilaku baca tulis masyarakat.

Terjadi lompatan dari wahana kertas ke wahana kaca. Lompatan dari baca tanpa jari ke baca pakai jari. Lompatan dari warga dunia nyata ke warga dunia maya.

Pertama, lompatan dari wahana kertas ke wahana kaca.

Dulu, teks dan gambar adanya di kertas koran dan buku. Sekarang adanya di layar HP.

Dulu kalau mau baca berita, ya harus baca koran yang ukurannya menutupi wajah. Sekarang cukup baca HP yang ukurannya hanya selebar tapak tangan.

Dulu kalau mau bikin nota belanja saat hendak ke pasar, tulisnya di sepotong kertas, sekarang tulisnya tinggal ketik di HP. Tidak butuhkan balpoin.

Kedua, lompatan dari membaca tanpa menggunakan jari ke membaca dengan menggunakan jari.

Dulu, membaca hanya menjadi pekerjaan mata, sekarang menjadi perkerjaan jari juga.

Sambil membaca status, orang bisa menulis balasan chat dengan teman, sembari mendengar musik dari wahana yang satu dan sama bernama HP. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, kata pepatah.

Ketiga, lompatan status dari warga dunia nyata (citizen) ke warga dunia maya (netizen).

Status kewargaan ganda ini membuat orang bergerak bolak balik antara yang nyata dan yang maya.

Ngobrol dengan teman di dunia nyata bisa dilakukan bersamaan dengan chat dengan orang lain di dunia maya.

Sebagai warga dunia nyata, seseorang boleh saja cantiknya pas-pasan. Tapi sebagai warga dunia maya, dia bebas memilih cantik secantik-cantiknya, berkat aplikasi rekayasa gambar.

Ariel Noah di dunia nyata itu hanya satu. Tapi coba cek di Facebook dan Instagram, ada begitu banyak Ariel Noah dan itu pasti palsu (fake).

Beberapa contoh nyata di atas kiranya jelas memperlihatkan bahwa ketiga lompatan tadi ibarat pedang bermata dua

Di satu sisi lompatan itu membuat banyak urusan kehidupan menjadi lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat.

Tapi di sisi lain lompatan yang membawa kemaslahatan tersebut justru membuat orang cenderung lebih suka menjadi manja dan cari gampang.

Dalam bermedia di era digital saat ini, orang semakin malas membaca dan menulis. Itu fakta tak terbantahkan.

Saat buka Tiktok, yang utama dilakukan seseorang adalah menonton, bukan membaca dan menulis.

Ingin meniru goyang asyik si seksi Tiktoker? Tidak perlu baca tulis. Cukup nonton dan klik. Tonton saja sambil tiru geraknya, lalu klik-rekam sambil ikuti goyangnya. Sesimpel itu. Manja dan gampang.

Pada era media sosial saat ini, lebih banyak bahkan semakin banyak yang gemar membuat komen dan meng-update status daripada jumlah yang betah membaca lama dan menulis panjang pada portal media online.