Mazmur Wae Teku

Avatar of Gerard Bibang
mata wae

Dunia sudah amat tua; wae teku tempat air bersemayam bahkan lebih tua dari manusia; airnya kita hisap bersama-sama tiada berbatas; ketika ia kering, kehidupan kita semakin rapuh dan sakit kita tidak semakin sembuh

Wae teku kering; air yang tersemayam di dalamnya entah ke mana; uapnya yang kering menggaringkan langit sehingga tersobek-sobek; badan kita pun semakin dipanggang hawa panas; sejumlah pulau akan tenggelam dan lainnya menjadi rawa-rawa; ladang dan kebun menjelma gurun; anak cucu kita hidup sengsara karena ransum bagi masa depan mereka telah sirna; telah dihisap habis dengan semena-mena oleh manusia serakah

Berpuluh tahun tangis wae teku menyentuh setiap kalbu; kita masih saja sibuk mencari-cari tangis itu dari mana lalu menjadi bingung; tangisannya adalah warta tentang rahimnya yang perih karena telah lama mengering; kita pun berteriak-teriak memanggil pemimpin yang paham untuk melapangkan dada tapi tak kunjung datang; ataukah memang tak dilahirkan oleh Tuhan

Memang hanya manusialah jenis hewan yang diperbudak keserakahan; yang mencakar-cakar orang lain dengan kuku setan; yang menghisap wae teku tanpa pernah berterima kasih dengan menanam kembali pohon-pohon penghasil air untuk merawat dan memeliharanya; sesudah uzur usia barulah disiksa kecemasan namun tetap saja tidak berbuat apa-apa; apa gunanya berdoa siang malam tanpa berbuat apa-apa; bukankah ketika bunyi nafiri itu datang, kita-kita ditanya bukan seberapa banyak berdoa tapi apa yang telah kau lakukan terhadap saudaramu, manusia, alam dan binatang?

 

Betapa dahsyat penciptaan wae teku di rahim bumi
Bagai Tuhan itu sendiri, memberi tanpa memintanya kembali
Oleh apa pun tak terwakili:
Wae teku adalah tindakan Allah sendiri

Kalaupun batok kepalamu pecah semalam
Dipukul orang dari belakang
Tatkala bangun di pagi merekah
Hatimu telah memaafkan

Sebab air yang kau minum dari wae teku

Membuat hatimu bermuatan budi luhur

Meskipun dindingnya penuh keremangan
Tak pernah menjadi batu seonggokan

Sebab hatimu penuh rasa syukur

 

Alam diciptakan, terjadilah sebuah ruang, bukan untuk hura-hura tapi untuk merenung bagi orang-orang yang berpikir atas pencarian sebuah khazanah tersembunyi dalam kehidupan yang terbatas; alam adalah guru yang paling jujur untuk mengajarkan banyak hal mengenai sebuah kesadaran akan dirinya sendiri; sejak awal penciptaannya, Tuhan telah menetapkan semua prosedur serta mekanisme kerja dengan sangat teliti, sangat akurat, dan sangat sempurna yang kita kenal sebagai asas tunggal, hukum alam atau keniscayaan; bahwa setiap pergerakan alam berada dalam keseimbangan, kekhusyukan dan keteraturan pada sebuah orbit penyembahan atau wujud pengabdian kepada Sang Pencipta

Lihatlah siang dan malam, bulan, matahari dan planet-planet yang selalu berjalan pada orbitnya, turunnya hujan hingga sebuah debu yang berterbangan yang pada hakikatnya di dalam semua peristiwa atau gerakan alam tersebut terdapat sebuah pelajaran, hikmah dan pesan atau tanda-tanda yang berasal dari Sang Pencipta; bahwa alam semesta menyimpan banyak misteri yang tidak bisa dipahami dengan rasionalitas belaka; bahwa alam mempunyai caranya sendiri untuk berbicara, bergerak dan bersuara dengan nada dan iramanya sendiri serta menyampaikan pesan-pesan kebesaran Sang Pencipta dengan bentuk dan estetikanya sendiri

Terciptalah dari rahim bumi, wae teku; menyembulkan mata air, memberimu kehidupan; ia adalah warta tentang Tuhanmu sebagai sumber hidup yang terus-menerus memberi dan merawat kehidupan; ia adalah warta agar kau membangun relasi antara sesamamu dan sesama ciptaan dengan sikap ramah, bakti dan saling memberi, yang menghasilkan damai dan harmoni karena memiliki sikap respek pada kehidupan; bahwa merawat kehidupan adalah sikap mulia; bahwa bermalas-malas dan rakus adalah sikap laknat

(gnb:tmn aries:jkt:kamis:28.9.23)

Catatan:

Wae teku = sumber air, mata air, tempat timba air; sering ditambahkan kata sifat tedeng yang berarti awet, lestari, abadi, langgeng, kekal.

Maka, wae teku tedeng menunjuk pada sumber tempat warga selalu menimba air untuk aneka kebutuhan: mandi, mencuci, masak, dan lain-lain.

Karena relasi warga dengan mata air itu bersifat abadi, maka lalu ditambahkan kata: salang (= jalan) sehingga menjadi salang wae teku tedeng. Dan salang tersebut dikontraskan dengan salang wae tuak.

Kalau salang wae tuak itu sementara dan sewaktu-waktu maka salang wae teku tedeng itu abadi, yakni kita selalu butuh air untuk kelangsungan dan kelanjutan hidup dan kebudayaan.

“Wae teku tedeng” secara simbolis menunjuk pada ciri atau karakter dan ideal atau model yang mestinya diperlihatkan atau ditunjukkan dalam hubungan antar-warga dan antar-keluarga di Manggarai.

Dalam arti itu, semua orang dalam kebudayaan Manggarai tak terkecuali mesti membangun semangat “wae teku tedeng”. Kita sudah, selalu, dan akan membutuhkan sesama kita untuk keberadaan kita.

Makna teologisnya sebagai berikut. Seperti halnya Tuhan sumber hidup terus-menerus memberi dan merawat kehidupan, begitu juga selayaknya relasi yang dibangun antar kita dan sesama ciptaan perlu dijiwai oleh sikap ramah dan bakti dan saling memberi.  Hubungan antarmanusia  terlalu kerdil jika hanya ditopang oleh perhitungan untung rugi, kalah menang, dan seterusnya. Damai dan harmoni serta saling memberi dimulai dari sikap respek pada kehidupan. Dan wae teku tedeng adalah ideal dan model relasi dalam kebudayaan Manggarai.

 

Baca juga artikel terkait NARASI PUITIK atau tulisan menarik Gerard Bibang lainnya.
EDITOR: Redaksi Krebadia.com


gerard bibang, wajah, daun-daun kering, Tikungan Dungu nyawa

Gerard N. Bibang, alumnus IFTK Ledalero, dosen, dan penyair, mantan jurnalis-penyiar radio Deutsche Welle Jerman dan Radio Nederland Wereldomroep Belanda.