Mengenang Eman Djomba: “Pulang ke Rinduku

Avatar of Redaksi Krebadia
Mengenang Eman Djomba

Oleh Agust G Thuru

Sejak mendengar kabar kepergian sahabat Emanuel Djomba tadi siang (4-7-2024) saya diliputi rasa sedih mendalam. Sedih bukan karena peristiwa kematiannya tetapi karena persahabatan kami akhirnya harus sampai di garis batas: oerpisahan kekal. 

Saya mulai menjalin persabatan dengan Pak Eman, demikian ia akrab disapa, sejak tahun 2000 di Denpasar. Waktu itu saya baru setahun di Denpasar setelah  memutuskan mundur sebagai wartawan dari SKM Dian yang terbit di Ende Flores. 

Pertemanan kami nyaris tak dibatasi usia. Dari aspek usia Eman jauh lebih muda. Beda usia dengan saya sekitar 13 tahun. Tanpa melalui kesepakatan, kami terbiasa saling sapa dengan sapaan pak. Saya menyapanya Pak Eman, sebaliknya ia menyapa saya Pak Agus. Sapaan ini membuat kami tak lagi punya jarak beda usia. 

Tahun 2000 saya bergabung dengan Harian Sinar Bali yang diterbitkan oleh para jurnalis asal Flores. Mereka antara lain Pak Agustinus Dei Segu, Pak Emanuel Dewata Oja, dan lain-lain. 

Namun setelah beberapa bulan terjadi perubahan. Beberapa wartawan berpisah dari Sinar Bali dan sepakat mendirikan Harian Fajar Bali dengan owner-nya Pak Yoseph Fredrik Bhalu, S.H. asal Bo Loji Bajawa. Pemimpin redaksi Pak Emanuel Dewata Oja. 

Saya bergabung dengan  Harian Fajar Bali. Pak Eman Djomba lalu bergabung juga sebagai wartawan. Selain itu saya dan Pak Eman juga aktif menulis untuk majalah Agape Komsos Keuskupan Denpasar. 

Tahun 2005 saya mengundurkan diri dari Harian Fajar Bali. Pak Eman juga mengundurkan diri. Seingat saya ia bergabung dengan Harian Suara Karya. Ia juga tetap aktif menulis atau meliput untuk majalah Agape

Berhenti dari Fajar Bali saya mengelola majalah Hukum dan HAM “Wawasan” yang diterbitkan oleh Prof. Dr. Yohanes Usfunan, S.H.,M.H. Tahun 2006 Pak Eman mengajak saya menerbitkan tabloid bulanan Diaspora. Sayangnya tidak bertahan lama. 

Tahun 2007 para aktivis industri pariwisata menerbitkan tabloid Flores Paradise. Mereka adalah Pak Laurens Bahang Dama, Pak Marianus Sae, Pak Emil Bei, dan Pak Hubertus Samsi. Saya menjadi pemimpin redaksi sedangkan Pak Eman sebagai redaktur pelaksana. Tabloid ini bertahan beberapa tahun. 

Saya lalu diberi kepercayaan oleh Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Bali Artha Guna mengelola Tabloid MENTIK. Tabloid ini terbit pada 12 Juli 2010. Edisi cetak sampai tahun 2022 dan sampai sekarang terbit sebagai tabloid digital. Saya mengajak Pak Eman bergabung namun ia memilih pulang ke Bajawa. 

Di Bajawa ia menerbitkan  media CERMAT dan beberapa majalah. Ia juga menulis di media online, menulis buku kenangan dan buku profil. 

Selain pernah mengajar di PGSD CITRA BHAKTI Pak Eman sangat aktif sebagai penggerak literasi di Ngada. Perhatiannya pada dunia literasi sungguh sangat besar. 

Saya ingat Juni 2022 saat saya berlibur ke kampung, Pak Eman mengajak saya ke Deru dengan naik motor. Di Deru untuk meliput sekaligus memotivasi  anak-anak SDK Deru untuk gemar membaca. Saat itu saya bertemu dengan Pak John Lobo, guru di Mojokerto yang sangat getol membagi  buku ke sekolah-sekolah di NTT lewat gerakan “Katakan dengan Buku”.

Meskipun Pak Eman aktif di politik dan pernah sebagai caleg DPRD Ngada dari PAN, Pak Eman tetap aktif memotivasi siapa saja untuk berliterasi dan aktif menulis. Ia setia di jalur panggilan sebagai jurnalis. 

Tanggal 8 Juni 2024 ia menelepon saya. Suaranya agak serak. Seperti menahan sakit. Ia mengatakan sedang ada di Denpasar untuk perawatan kesehatan.

Ia katakan sangat ingin ke rumah saya untuk “omong-omong” soal penulisan antologi puisi. Ya, Pak Eman juga penyair, ia telah menerbitkan buku puisi  “Kembali ke Rinduku”.

Tanggal 14 Juni 2024 saya mengunjunginya di Rumah Sakit Sanglah. Pak Eman tidak banyak bicara. Dia hanya katakan “Puji Tuhan” dengan suara lemah. Wajahnya pucat. Sungguh, saya sedih ketika melihat teman mesti menahan sakit.

Tadi siang, sekitar pukul 11.45 Wita kabar duka itu datang. Pak Eman “Pulang ke Rinduku”, rindu kehidupan abadi sesuai dengan iman yang diyakininya. 

Saya sedih. Tapi saya sangat memahami, inilah jalan pulang ke rinduku, seperti yang engkau rajut dalam bait-bait puisimu. Selamat pulang ke tanah keluhur Kurubhoko, selamat pulang ke tanah Firdaus. Bahagia abadi di surga. 

SUMBER