Mengenang Rm. Patris Bollar: “Patris, The Goalie”

Avatar of Redaksi Krebadia
Patris bollar

Ditulis oleh Yosef Maria Florisan

Kabar kepergian Ananda Patris subuh tadi sungguh mengejutkan saya. Sepanjang ingatan saya yang serba-terbatas, tatkala siswa di Kisol dahulu almarhum terbilang di antara siswa paling sehat, yang layak setiap hari mendendangkan lagu “Aku anak sehat, tubuhku kuat”.

Patris adalah penjaga gawang kawakan Sanpio pada zamannya, benar-benar the goalie. Barangkali juga hingga Ritapiret sejak ia menjejakkan kakinya di TOR (mungkin di Lela waktu itu).

Perjumpaan saya terakhir dengan Ananda Patris terjadi di Paroki Mano, tahunnya lupa, namun acaranya adalah tahbisan imam. Salah seorang ponakan ditahbiskan di sana, dan itulah tahbisan presbiter terakhir yang dipimpin alm. Mgr. Hubertus Leteng, sebab beberapa hari kemudian Vatican menerbitkan dekret bahwa pengunduran dirinya sebagai uskup Ruteng dikabulkan, dan teman kelasnya Uskup Ako San ditunjuk sebagai penggantinya.

Saya teringat alm. Patris dan alm. Uskup Umbek karena pada hari kematian alm. Patris Injil omong tentang “percuma” yang barangkali merupakan moto presbiter alm. Uskup Umbek. Kamu terima dengan percuma maka kasih juga dengan percuma. Saya selalu tafsir ayat ini di depan alm. Romo Umbek semasa karyanya di Ritapiret dengan satu kalimat singkat “percuma e Pak”. Beliau hanya tersenyum.

Di Mano itu, setelah tahbisan, hujan begitu lebat dan saya menikmatinya dengan sebatang bako sambil melihat tempias hujan di pucuk-pucuk pohon cengkih yang merimbun bergerombolan dekat pastoran, sambil berbayang “betapa kaya rayanya paroki dan umat di sini” … tak sebanding harga kopra yang kadang-kadang ada di beberapa paroki di Keuskupan Maumere.

Saya dikejutkan oleh sapaan “Kae, masih merokok?” sambil terkeker tawaran bako berbungkus putih. Saya agak melotot ternyata Ananda Patris. Saya agak heran pula, sebab sejak kapan “atlet” ini terjerembab dalam kebiasaan buruk saya mengepulkan dupa duniawi tersebut tidak pada tempatnya?!

Sebodoh amat, yang penting dapat bako gratis, dari anak murid pula, yang pastor lagi. Pasti berkat Tuhan melimpah pada benda bodoh itu! Selebihnya, Ananda Patris menambah kertas ajaib warna merah, sambil berujar “Kae, weli rongko dite.” “Epan gawan golo, Romo,” jawab saya terkejut. Tentu si merah itu lebih layak dibeli beras alih-alih benda bodoh tadi, maka saya membawanya pulang hingga ke Rane.

Pagi ini di depan Perpustakaan Ledalero saya menulis kenangan ringkas ini untuk Ananda Patris terkasih. Apa pun sakitmu di dunia ini, Ananda Patris tersayang, semoga dalam kerahiman ilahi penderitaan itu sudi digenapkan Tuhan di dalam penderitaan Kristus sendiri. Anak momang Patris, never cease to pray for all of us from heaven!

SUMBER