Panggil dari Jauh

Narasi Mgr. Vincent Sensi Potokota

Avatar of Gerard Bibang
Panggil Dari Jauh Ule Lela Nggewa

Leluhur kami dulu di Flores bilang: kalau mau tahu siapakah seseorang, lihatlah cara meninggalnya. Dengan wajah penuh tenteram damai, Uskup Sensi telah pergi ke tempat dari mana tak seorang pun dari kita dapat memanggilnya kembali.

Tuhan telah memilihkan saat terbaik untuk memanggil kekasih-Nya, Uskup Sensi, minggu sore sembilan belas November lalu, di bawah cahaya senja langit-langit RS Santo Carolus, saat sebagian sesama berimannya di kota metropolitan itu bersiap-siap menghadiri gereja sore. Entah kebetulan atau tidak, kepergian Uskup Sensi ke rumah Bapa berbarengan dengan bergegas-gegasnya jutaan orang beriman ke rumah Tuhan.

Orang baik hati itu pergi dengan gagah sebagaimana mottonya: “Praedica verbum opportune, importune = wartakanlah Sabda dalam keadaan baik atau tidak baik”. Beberapa keluarga yang mengitarinya di ranjang rumah sakit di saat-saat terakhir, menyatakan bapa uskup sangat bahagia dan tenang.

Uskup ini, sependek pengalaman pribadi saya, senantiasa teduh, sejuk dan adem. Berada bersamanya membuat saya merasa at home dan tenteram. Senyumnya adalah kasih sayangnya. Memanggil saya dengan nama adalah cintanya. Bicara dan gestur tubuhya adalah cinta kasihnya. Simpatik dan menyenangkan. Dia man of grace yang tampak nyata di dunia.

Hal ini semakin membuat saya yakin setelah melihat proses keberangkatannya ke rumah Bapa. Dia tidak pergi tiba-tiba. Juga tidak melawan logika manusia. Dia pergi benar-benar berdasarkan akselerasi logis dari sakit demi sakit yang dideritanya.

Coba lihat! Sejak awal tahun ini, dia sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Tubuhnya yang gagah, mengurus. Wajahnya tampak memucat tetapi tetap melakukan kunjungan pastoral tanpa mengeluh sedikit pun.

Bahkan beberapa minggu terakhir sebelum masuk RS Carolus, dia sendiri memimpin misa saat konferensi nasional romo-romo unio se-indonesia di Mataloko. Khotbahnya seperti biasa: tegas, jelas, terstruktur, selalu baru (novelty) dan mencerahkan meski agak tersendat-sendat karena batuk (saya menduga karena desakan sakitnya). Lalu pikirannya terus memberat, jantung bekerja keras, kanker usus menggeliat dan menelusup ke darahnya dan menganiaya tubuhnya.

Dengan akselerasi logis ini, sebenarnya hendak dia katakan: “wahai umatku terkasih, aku akan pergi tak kembali lagi.” Itulah cara keberangkatan seseorang yang tidak ingin merepotkan dan membebankan orang-orang yang dicintainya.

Hanya yah, itu tadi: saya pribadi dan mungkin juga engkau-engkau di luar sana telah mendengar bisikan bahasanya. Tapi memang dasar manusiawi kita tak sudi mengaminkan apa yang kita dengar. Saya sendiri dengan beberapa kali melihat akselerasi sakitnya itu, nyeletuk sendiri dalam batin dengan mata sembab: aduh, uskupku ini sakit berat!

Dua Kali Panggil Dari Jauh

Secara teknis, saya tidak pernah menjadi mahasiswanya di STFK Ledalero. Namun syukur kepada Allah karena saya kemudian diperkenankan mengenalnya melalui dua peristiwa personal yang saya rangkum dengan judul Panggil Dari Jauh.

Pertama, Cordaid Foundation International di Koeln pengujung 1999. Waktu itu saya sudah setahun bekerja di Radio Nederland Wereldomroep, Hilversum. Pimpinan saya meminta saya ke Koeln, Jerman, untuk meliput konferensi yang menurut dia ada kaitannya dengan pembangunan Indonesia bagian timur.

Saya tentu senang, sekalian nostalgia di Koeln. Di kota ini, saya tinggal dan bekerja selama enam tahun. Setelah melihat-lihat brosurnya, saya terkejut.  Ada utusan dari Indonesia, Father Vincent Sensi, Keuskupan Agung Ende. Dia satu di antara beberapa utusan dari wilayah Asia. Wah, saya tahu nama ini, begitu saya membatin.

Karena itu, sebelum konferensi berlangsung, saya langsung meletakkan alat tape recording di meja, khususnya di depan tulisan nama Father Vincent Sensi. Pikir saya, yah, sekalian merekam dan tidak usah mewawancarai khusus.

Belasan media cetak dan elektronik, hadir. Ada beberapa televisi Negara Bagian selain Deutsche Welle di Koeln sendiri. Karena begitu banyak peserta, saya tidak bisa menyempatkan diri untuk bertemu beliau. Toh nanti habis konferensi, pikir saya.

Singkat cerita, masuklah para peserta konferensi dari Asia. Wah, saya bangga. Saya lihat Romo Sensi ganteng sendiri. Tinggi, tegap, wajah Asia yang sangat reprensentatif-lah. Reporter dari Deutesche Welle yang duduk di samping saya terkagum-kagum koq ada yang seganteng ini, setelah saya beritahu bahwa romo yang paling tampan itu sekampung dengan saya, Pulau Flores. Saya bicara agak sombong di depan reporter bule cantik Jerman itu, saya pikir, sudahlah, biar sekalian berbesar hati sedikit di depan orang Jerman. Mumpung ini kesempatannya, hahahaha. Saya duduk di baris ketiga dari depan, di bagian tengah.

Begini peristiwanya, ketika Romo Sensi mulai presentasi dalam bahasa Inggris dan ada penerjemah bahasa Jerman yang disiapkan oleh Cordaid Foundation International.

Dia sangat runut menjelaskan katolisitas orang Flores. Yang mengejutkan, tiba-tiba dari mejanya dia katakan sebetulnya tentang Flores hanya sedikit dari yang saya sampaikan sekarang, tapi di sini ada orang Flores yang bisa menjelaskannya lebih banyak, itu saya lihat Mr. Gerard Bibang (sambil menunjuk ke arah saya, dan memberi aba-aba supaya saya berdiri). Saya berdiri dan semua hadirin tepuk tangan. Lalu disambung dalam bahasa Indonesia: Gerard kau jangan dulu pulang, nanti kita ketemu. Iyah Romo, jawab saya. Hadirin tepuk tangan lebih kencang. Penerjemah terheran-heran tidak tahu mau terjemahkan bagaimana. Kata orang Maumere, penerjemah itu langsung kangaranga memang.

Jujur, saya sudah tidak konsen dengan materi-materi selanjutnya. Aduh, dia koq kenal saya, begitu gumam saya. Sesudah konferensi, dia langsung turun dari mimbar (agak jauh) dan kami bersalaman erat.

“Gerard, saya pikir kau badan besar dan tinggi. Kau punya suara di radio lebih tinggi dari kau punya badan,” sambil menepuk-nepuk bahu saya. Kami ngakak sejadi-jadinya. Ternyata, info tentang saya sudah dia dapatkan dari beberapa teman kelas saya di STFK Ledalero yang sekarang menjadi adik-adik romonya di Ende.

Saya beritahu: Ka’e Romo, sekarang saya di Radio Nederland Wereldomroep Hilversum. Bagus, bagus, kau memang cocok di situ, jawabnya.

Lalu saya menanyakan agenda selanjutnya bagaimana dan kapan waktu senggang untuk mampir di Belanda. Urusan tiket kereta ICE (paling cepat di Eropa), bisa saya pesan dari Belanda dan untuk ke tempat berikutnya. Dia diam sebentar dan katakan, mungkin nanti setelah pertemuan di Muenchen. Lalu saya memberikan voucher kartu telepon internasional 100 menit dan memberitahu bagaimana cara menggunakannya. Waktu itu belum ada telepon internet seperti sekarang. Dia senang sekali. Malam itu, ketika hendak masuk sesi berikut, saya pamit menuju Hauptbahnhof (stasin utama) Koeln untuk mengambil kereta terakhir ke Amsterdam.

Tiba di rumah di Almere, saya ceritakan ke istri tentang pertemuan saya dengan Romo Sensi dan kemungkinan untuk melawat ke Belanda. Istri saya, senang. Dia katakan, supaya Romo Sensi tidak capek, kita ambilkan pesawat dari Muenchen ke Amsterdam, atau Muenchen Duesseldorf lalu kita jemput dia di sana. Tempat-tempat yang dikunjungi pun didata: berlayar sepanjang kanal kota tua Amsterdam, melihat gedung-gedung VOC, Troppen Museum, kapal phinisi VOC di Lelystad lalu makan ikan asap di kota wisata Vollendam sambil foto-foto pake pakaian tradisional Negeri Kancir Angin itu di sana.

Eh, ternyata dari Muenchen beberapa hari sesudahnya dia telepon bahwa jadwal diubah panitia. Selesai di Muenchen, semua peserta wisata bersama ke beberapa tempat di Jerman Selatan, lalu ke Wina Austria untuk seterusnya ke Swiss, dan dari sana semua peserta kembali ke negara masing-masing.

Kedua, malam dana di Mangga Dua Jakarta.  Sejak di Koeln itu, saya tidak pernah berkontak dengan dia. Sampai akhirnya ketika dilaksanakan malam dana di Mangga Dua untuk keuskupan-keuskupan di Flores, tahun 2013, kalau tidak salah. Ada uskup Cherubim, Uskup Hubert, Uskup Frans dari Larantuka. Dan Uskup Sensi pemimpinnya mewakili uskup-uskup beri kata sambutan. Setiap kali dia selesai bicara, tepuk tangan meriah. Begitu terus, sampai selesai. Banyak sekali orang hadir.

Waktu itu, saya sudah balik menetap di Indonesia dan oleh ketua lingkungan Paroki Thomas Rasul diundang untuk datang ke acara besar itu. Selesai acara, banyak umat berkerumun berjabatan tangan dengan uskup-uskup. Saya dengan teman-teman lingkungan berdiri ngobrol sambil mencari celah untuk keluar ruangan.

Tiba-tiba dari jauh sebelah sana terdengar suara keras: Gerard, Gerard, sini dulu, sini dulu! Saya menoleh ke arah sana, eh, ternyata Uskup Sensi yang panggil, Gerard sini dulu, sini dulu, sambil tangan kirinya membuat aba-aba agar saya mendekat sambil tangan kanannya berjabatan dengan kerumunan umat di sekelilingnya.

“Cepat Pak Gerard,” kata ketua lingkungan saya, “mungkin Uskup Vincent perlu penting.” Saya segera ke kerumunannya, dan tepat saja: kami bersalaman dan saya merangkulnya: Ka’e Uskup, saya pikir sudah lupa saya. Ah kau ini, lupa bagaimana, mana kau punya ibu dan anak. Mereka di rumah, Ka’e Uskup. Lalu lanjutnya: Oe kau harus jaga makan o, saya lihat kau makin tambun.

Sesudah itu umat-umat lain serbu menemuinya bersalaman dan saya mundur pelan-pelan dari kerumunan lalu berpisah. Dalam perjalanan pulang dalam mobil, saya tertegun. Apa Uskup Sensi punya mata kucing ya, sehingga bisa melihat tajam dari kejauhan? Mata hati orang ini luar biasa, gumamku sendiri.

Dan ini hebatnya: bersalaman ramah tangan kanannya dengan banyak umat sambil tangan kirinya memanggil saya disertai suara keras: Gerard, Gerard, sini dulu, sini dulu!

Sejak saat itu, kami tidak pernah bertemu. Hanya untuk merawat persahabatan rohaniah yang istimewa ini dengannya, dengan sengaja saya buka medsos dan Youtube men-searching terkait namanya, terutama Youtube tahbisan dan apa saja di mana dia memimpin upacaranya. Demikian juga yang saya lakukan ketika mengikuti akselerasi sakitnya beberapa bulan terakhir.

Tak Sudi Dipergoki

Orang besar yang berhati mulia ini telah pergi. Wahai maut, mengapa engkau menjemputnya terlalu cepat? Begitu saya memprotes ketika mendengar khabar duka Minggu sore itu.

Pada akhirnya, saya harus menerima kebenaran iman ini: Tuhan Sang Pemilik Hidup tak sudi dipergoki. Takdir-Nya tak bisa dicegat. Kehendak-Nya tak mungkin bisa dianalisis dan dibatasi. Hak-Nya atas misteri garis terang dan gelap kehidupan, serta atas ketentuan detik maut dihadirkan, tak membuka diri sedikit pun untuk dirumuskan oleh segala ilmu dan pengalaman.

Setelah beberapa hari keberangkatannya sambil mengikuti livestreaming misa requiem di Kupang lalu dua hari misa requiem di Katedral Ende dan puncaknya pada hari Kamis misa pemakaman, tanpa sadar titik-titik air mata turun berurai.

Uskupku, engkau telah diterima Allah untuk bergabung dalam keabadian-Nya. Yang kelabakan, yah, saya, mungkin engkau-engkau yang membaca narasi ini, sebab yang kita punyai saat ini adalah budaya instan dan cepat-cepat jadi kaya dan besar, pola berpikir sepenggal, perhatian terlalu rendah terhadap inti iman, serta kefakiran yang luar biasa terhadap kualitas hidup, ialah mencintai dan berkasih-sayang, hanya dalam saling menyapa dengan memanggil nama.

Akhirnya saya paham mengapa engkau tampak damai dan memberi kesan baik-baik saja selama ini. Akhirnya saya paham mengapa engkau tidak mau khalayak ramai mengalami kadar derita yang engkau alami. Demikian pun takaran jenis sakit yang menimpamu, orang lain tidak perlu mengetahui atau turut menghayatinya. Engkau telah bahagia di dalam anugerah kemuliaan di dalam rahasia deritamu.

Sampai jumpa di surga, uskupku yang baik hati! Dari jendela kecil surga, sudilah mendengarkan doa kami sekeluarga, yang saya tulis Minggu malam setelah beberapa jam engkau berangkat ke rumah bapa:

KAMPUNG HALAMANMU BUKAN LIO

Sepanjang-panjang kakimu melangkah
Hingga Minggu sore sembilan belas November berakhirlah sudah

Jiwamu gerimis dan wajahmu penuh senyuman
Sebab siapa pun tak kan kuat hati menahan
Jika tangismu tak disembunyikan

Damailah dalam semesta ruang waktu keabadian
Itulah kau punya kampung halaman sekarang

Setiap orang kau sapa dengan nama

Kau tidak pernah anggap kata pepatah apalah arti sebuah nama

Setiap nama medan tersiar cinta dan kasih sayang

Kau anak Lio dan akhirnya menjadi penduduk bumi
Tetapi kampung halamanmu bukan Lio, bukan di Ende, bukan di sini
Kampungmu nun jauh di angkasa tinggi
Yang paling mengerti seluk-beluk bumi
Serta paling menyayangi penduduk planet aneh ini
Maka kau dikirim ke sini
Dengan daftar tugas yang tersembunyi

Siapa pun yang melatih telinga batinnya
Pasti merasakan betapa sejati cinta yang kau berikan

(gnb:tmn aries:kamis:23.11.23: hari pemakaman Uskup Vincent Sensi di Ndona)

 

Baca juga artikel terkait NARASI PUITIK atau tulisan menarik Gerard Bibang lainnya.
EDITOR: Redaksi Krebadia.com


gerard bibang, wajah, daun-daun kering, Tikungan Dungu nyawa kepadamu kepadaku

Gerard N. Bibang, alumnus IFTK Ledalero, dosen, dan penyair, mantan jurnalis-penyiar radio Deutsche Welle Jerman dan Radio Nederland Wereldomroep Belanda.