Pelitaku, Masku, Telah Berpulang

Selamat jalan pahlawan hasil bumi dan transportasi masyarakat Manggarai Timur Selatan. Engkau telah berjasa mengangkat martabat hasil bumi Manggarai Timur dan menerobos sekat keterisolasian sejumlah daerah kami. 

Avatar of Redaksi Krebadia
Silvester cai baba cai pelita mas pelitaku masku

Ditulis oleh Irenius Lagung

Ako Silvester Cai atau yang akrab disapa Baba Cai telah tiada. Sabtu pagi Bos oto Pelita Mas itu mengembuskan napas terakhir di depan Gereja Paroki St. Gregorius Borong saat hendak mengikuti misa pagi.

Kepergian Baba Cai meninggalkan duka mendalam bagi siapa saja yg pernah mengenalnya.

Secara pribadi saya mengenal Baba Cai di masa kanak kanak. Kebetulan ayah saya Bapa Kasianus Kaja adalah salah satu rekan bisnis hasil bumi beliau. Sekali seminggu Baba Cai datang muat hasil di rumah dengan kendaraan angkutan populer oto Pelita Mas.

Ia selalu tampil gagah dan kalem. Pembawaannya sederhana dan begitu akrab dengan bahasa Manggarai.

Beliau adalah satu satunya baba pembeli hasil bumi di Borong sejak pertengahan tahun 1970-an hingga awal tahun 2000-an. Wajar jika hampir semua petani dan pedagang mengenalnya.

Usahanya tak saja beli hasil bumi, tetapi juga merambah ke jasa transportasi. Siapa yang tak memgenal oto PELITA MAS? Dari truk kayu hingga bus, Pelita Mas menjadi satu-satunya alat transportasi populer bagi warga Borong dan Kota Komba.

Boleh dibilang beliau adalah perintis transportasi dan perdagangan hasil bumi di kawasan Manggarai Timur Selatan kala itu.

Tahun 1986 ketika harga kopi melonjak dari Rp750 hingga ke angka Rp5.000, Baba Cai pernah menawarkan berkah luar biasa untuk keluarga kami. Kebetulan kala itu ayah saya menampung kopi sebanyak 1 ton yang dibelinya dengan harga Rp750–Rp1.000 Baba menawarkan kopi tersebut dengan harga Rp5.000. Tetapi tawaran tersebut ditolak ayah saya dengan alasan menunggu harga melampaui itu.

Dasar sial, seminggu kemudian harga kopi perlahan turun dan ayah saya baru menjual kopinya dengan harga Rp2000. Rejeki nomplok akhirnya hilang begitu saja.

Kisah itu turut disesali Baba Cai. Sejak saat itu, setiap kali bertemu Bapa, Baba Cai selalu menyentil memori itu, “Ole eme toe bhora mese ite e, Om Kasianus.” (Aduh, kalau tidak Anda sudah kaya raya e, Om Kanisius). Bapa selalu menimpali dengan senyum saja sambil menjawab dengan kata kata penghiburan, “Belum rejeki e, Baba.”

Suatu ketika (1988/1989) saat masyarakat Kisol membutuhkan jasa bus transportasi, Bapa mengusulkan satu bus Pelita Mas milik Baba Cai bisa melayani kebutuhan transportasi jurusan Kisol–Ruteng. Permintaan itu dilayani Baba. Dan, setelah kehadiran Pelita Mas mulai bermunculan bus-bus lain yang melayani rute Kisol–Ruteng.

Dari relasi bisnis itu keduanya tetap akrab satu sama lain hingga usia tua. Meski tak sempat ketemu satu sama lain, mereka berteman di medsos. Terakhir Baba Cai mengirim pesan di FB tanggal 9 Juni 2024. Pesan yang baru dibaca setelah Bapa mendengar kabar kepergiannya.

Satu per satu penggalan kisah kebersamaan Bapa dan Baba pun dibuka kepada kami anak-anaknya. Iya, nostalgia yang terus melekat abadi.

Selamat jalan pahlawan hasil bumi dan transportasi masyarakat Manggarai Timur Selatan. Engkau telah berjasa mengangkat martabat hasil bumi Manggarai Timur dan menerobos sekat keterisolasian sejumlah daerah kami.

Semoga cahaya Pelita kebaikanmu yg laksana Emas itu tetap menyala dalam diri pengusaha-pengusaha baru di wilayah kami.

RIP

SUMBER