Peran Dilematis Perempuan Manggarai

Avatar of Herdiana Randut
perempuan manggarai

Tentang perempuan sudah banyak diulas dan diperbincangkan di berbagai level dan forum, juga dari berbagai perspektif. Menurut saya, semuanya itu mengisyaratkan satu hal yaitu untuk lebih ingin mempengaruhi kesadaran akan kesetaraan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki harkat dan martabat yang sama di kehidupan ini.

Konsekuensi dari kesadaran ini, jelas. Tidak boleh ada penindasan, perdagangan, kekerasan atau tindakan destruktif lainnya terhadap perempuan, apa pun modus operandinya.  Karena semua pelanggaran martabat perempuan umumnya akhir dari pemikiran dan pandangan bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki. 

Dari manakah pemikiran dan pandangan seperti itu datang? Kita bisa berpendapat banyak tentang hal ini tetapi yang saya lihat, faktor budayalah yang paling berpengaruh melahirkannya. Karena dari budaya, maka pandangan dan pemikiran merendahkan perempuan sangat kuat masuk ke alam bawah sadar masyarakatnya dan mempengaruhi seluruh perilaku dan pola pikir mereka.

Atas dasar ini maka sekolah tinggi dan kemajuan ilmu, jika berhadapan dengan budaya seperti di atas, hampir tidak membawa dampak apa-apa. Oleh karena itu, apa pun peradaban dan cara berpikir yang diajarkan oleh ilmu tentang penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai sesama ciptaan termasuk perempuan, hanya sampai pada isi kepala seseorang tetapi tidak berdampak nyata dalam kenyataan.

Jangan lupa satu hal. Perempuan adalah ibu. Ia pemilik rahim. Ia makhluk mulia. Maka, patutlah ia dihargai. Coba kita lihat dalam banyak aspek kehidupan. Perempuan memiliki peran dan berpartisipasi menggerakkan aspek-aspek kehidupan. Ia tidak hanya sebagai penonton melainkan sebagai creator, penggerak dan penerus nilai-nilai yang terkandung dalam setiap aspek kehidupan manusia. 

Tapi semua nilai yang bagus ini terhanyut dalam arus budaya di mana perempuan-perempuan itu menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari. Ke arah sanalah jangkauan tulisan ini dan hanya mengkhususkan diri pada budaya Manggarai, Flores Barat, NTT.

Perempuan Manggarai Sebagai Ata Pe’ang

Perempuan Manggarai dalam adat dan budaya orang Manggarai disebut ata peang atau orang luar. Menurut Odilia Sufalta dan Ni Ketut Purawati dalam jurnalnya yang berjudul Sistem Perkawinan Adat Manggarai Dalam Perspektif Gender, 2019, sebutan tersebut hanya sebagai bahasa simbolis untuk melindungi anak bayi ketika baru lahir tersebut dari gangguan roh jahat. Agar bayi tersebut diselamatkan dari roh jahat.

Sebutan ini, demikian jurnal itu, berlaku sebagai penanda bagi jenis kelamin perempuan. Mengapa disebut ata peang? Karena ketika ia menikah dan memiliki pendamping hidup, ia harus pergi dan tinggal bersama pendamping hidupnya. 

Jelas di sini bahwa perempuan Manggarai tidak memiliki peran yang sama dengan laki-laki. Ia tidak punya kuasa atas harta orang tua dan ia bukan pengambil keputusan di setiap urusan adat dalam budaya Manggarai. Ketika terdapat urusan adat, perempuan Manggarai tidak duduk dalam lingkaran pembicara atau pengambil keputusan utama. Ia hanya duduk mendampingi dan urusan lain dalam memperlancar acara tersebut. 

Apakah suara perempuan Manggarai tidak dibutuhkan? Bukan tidak dibutuhkan. Tapi alam budaya Manggarai sudah sejak lahir memperlakukan perempuan sebagai objek penyerta. Bukan sebagai manusia yang sepantar dan semartabat.

Dalam prakteknya, suara perempuan didengarkan. Ia berhak menyampaikan pendapat, ide, gagasan, dan usulan. Tetapi hemat saya, hal-hal itu tidak secara langsung diungkapkan. Suara mereka akan diteruskan oleh laki-laki pembicara utama. Perempuan tidak pernah menjadi jubir langsung dalam urusan adat.

Hal ini dipertegas oleh budaya Manggarai yang sangat patrilineal. Bahwa laki-laki-lah yang dominan dan penentu. Maka pandangan perempuan Manggarai sebagai ata peang ini sangat melekat kuat dalam budaya Manggarai dan mempengaruhi peran perempuan dalam banyak urusan adat dan khususnya bagi pendidikan. Karena begitu melekat dalam bawah sadar orang Manggarai, maka pandangan ini sangat sulit diubah. 

Lilitan Budaya

Tak bisa dipungkiri perempuan memiliki peran penting dalam urusan rumah tangga. Ia menjadi aktor utama yang mengatur arus kehidupan keluarga. Tanpa perempuan kehidupan seakan ‘sunyi’ dan tanpa nyali. 

Orang sering mengatakan bahwa salah satu kebijaksanaan hidup orang Manggarai adalah melihat rumah sebagai titik awal untuk melakukan segala sesuatu, (kompasiana.com, 25 Februari 2021). Di dalam rumah mbaru bate ka’eng (= rumah tempat tinggal), perempuan berdiam dan ia memulai kehidupan. Kemudian ia memulai aktivitas atau karya. Dengan demikian mbaru memiliki kaitan yang erat dengan keseluruhan hidup orang Manggarai.  Mbaru atau rumah, beo atau kampung, dan tanah memiliki hubungan, mewakili pandangan dan penghargaan orang Manggarai terhadap alam semesta. 

Sejatinya dari pandangan seperti ini, perempuan ditempatkan dan diperlakukan sebagai ibu bumi, alam semesta, pencipta kehidupan, dan pusat dari setiap aspek kehidupan manusia. Jika nilai-nilai kehidupan dalam adat Manggarai tercoreng, hal ini disamakan mencoreng ibu, pencipta, penggerak, dan pusat dari kehidupan itu sendiri. 

Apakah dengan ini nilai-nilai budaya tidak boleh diwariskan? Tidak juga. Saya sebagai perempuan tidak termasuk dalam pandangan pesimis seperti itu. Nilai-nilai budaya yang sudah diwariskan oleh nenek moyang dan para leluhur dahulu kala perlu diteruskan apalagi yang berkaitan khusus dengan nilai-nilai keperempuanan Manggarai seperti adat roko molas poco (upacara penjemputan serta perarakan seorang gadis dari gunung atau hutan untuk dijadikan tiang agung rumah adat Manggarai), acara air susu ibu dalam perkawinan Manggarai, penghargaan terhadap prinsip hidup orang Manggarai sendiri mbaru bate ka’eng (rumah tempat tinggal), compang bate takung (tempat sesajian), natas bate labar (halaman rumah untuk berinteraksi dengan sesama atau orang lain), beo bate lonto (tempat untuk hidup dan tinggal seumur hidup), uma bate duat (sebagai tempat untuk bekerja mencari hidup), menghargai ibu bumi sebagai sumber kehidupan dan nilai-nilai hidup orang Manggarai lainnya. 

Dengan tulisan ini pada akhirnya hendak dimunculkan satu dari upaya-upaya kecil membuka mata dan menghidupan awareness serta pencerahan bagi para perempuan Manggarai untuk meretas lilitan budaya bukan dengan berdiam diri tetapi dengan menunjukkan peran berkualitas dalam kehidupan, sehingga lambat laun, kita dapat diterima sepantar dan sejajar dalam kehidupan bermartabat.