Saat Marah, Anda Justru Berada di Bawah

filosofi 1

Krebadia.com —  “The person who has the ability to make you angry holds authority over you.”

Itu kata Epictetus, filsuf Stoik terkenal yang hidup pada abad pertama Masehi.

“Orang yang mampu membuatmu marah memiliki kekuasaan diri atas dirimu.”

Dengan kata lain, orang yang membuatmu marah adalah tuan atas dirimu. Dengan amarahmu, kamu adalah bawahannya.

Epictetus menyarankan, kita perlu menyadari bahwa jika seseorang memiliki kemampuan membangkitkan kemarahan dalam diri kita, itu menandakan mereka memiliki tingkat pengaruh atau kontrol tertentu atas diri kita.

Ini mengacu pada fakta bahwa ketika kita merespon dengan amarah terhadap seseorang, sebenarnya kita memberikan otoritas atau kekuasaan kepada untuk memengaruhi perasaan dan emosi kita.

Dalam konteks ini, otoritas tidak harus selalu berarti posisi atau kekuasaan formal. Ini bisa merujuk pada orang-orang dalam kehidupan kita yang memiliki kemampuan atau keahlian khusus untuk memengaruhi kita dengan kata-kata atau tindakan mereka. Mereka mungkin memiliki pemahaman yang mendalam tentang kita, kelemahan kita, atau tentang bagaimana memicu emosi negatif dalam diri kita.

Terlepas dari sumber otoritas ini, penting untuk diingat bahwa kita memiliki kendali atas reaksi kita terhadap emosi dan perlakuan orang lain. Bahkan jika seseorang memiliki kemampuan untuk memprovokasi kemarahan kita, kita memiliki kemampuan untuk mengelola respon emosional kita dan memilih bagaimana kita bereaksi terhadap situasi tersebut. Mengakui bahwa kemarahan yang kita rasakan adalah tanggung jawab dan kendali kita dapat membantu kita mengambil alih kekuasaan dari individu yang mungkin mencoba untuk memengaruhi kita.

filosofi 2 1

Apa Itu Kemarahan

Kemarahan adalah salah satu emosi manusia yang kuat dan kompleks. Secara umum, kemarahan merupakan reaksi emosional yang muncul ketika seseorang merasa terganggu, tidak puas, atau merasa dirugikan oleh situasi atau orang lain. Kemarahan dapat muncul dalam berbagai tingkat, mulai dari frustrasi dan kekecewaan ringan hingga kemarahan yang mendalam dan meledak-ledak.

Kemarahan meliputi perasaan seperti amarah, kebencian, kesal, dan iritasi, yang seringkali disertai oleh keinginan untuk merespon dengan agresi fisik atau verbal. Ini bisa muncul ketika seseorang merasa bahwa hak-haknya telah dilanggar, adanya ketidakadilan, atau ketidakcocokan antara harapan dan kenyataan. Selain itu, kemarahan juga sering kali dipicu oleh perasaan malu atau dihina.

Penting untuk memahami bahwa kemarahan itu alami dan normal dalam kehidupan sehari-hari. Namun, cara kita mengelola dan mengekspresikan kemarahan dapat memiliki dampak yang signifikan pada hubungan dan kesejahteraan pribadi kita. Terlalu sering dan intens mengalami kemarahan yang tidak terkendali dapat merusak hubungan interpersonal dan kesehatan mental.

Untuk mengatasi kemarahan, penting untuk mempelajari strategi pengelolaan emosi yang efektif, seperti mengenali dan mengelola pemicu kemarahan, belajar untuk berkomunikasi dengan efektif, mengambil waktu untuk tenang dan mempertimbangkan respon yang tepat, serta mencari bantuan profesional jika kemarahan terus berlanjut atau mengganggu kehidupan sehari-hari.

filosofi 3 1

Teori tentang Kemarahan

Terdapat beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang kemarahan. Beberapa teori utama termasuk teori biologis, teori psikodinamika, teori kognitif, dan teori pembelajaran sosial.

  1. Teori Biologis: Teori ini mengungkapkan bahwa kemarahan adalah respon biologis yang terprogram dalam sistem saraf kita. Kemarahan dianggap sebagai respon adaptif yang membantu kita melindungi diri, melawan ancaman, dan mengaktifkan reaksi “fight-or-flight“. Faktor biologis seperti genetik, hormon, dan struktur otak dapat memengaruhi tingkat kemarahan seseorang.
  2. Teori Psikodinamika: Teori ini berasal dari perspektif psikoanalisis Sigmund Freud. Kemarahan dipandang sebagai manifestasi dari dorongan-dorongan primitif dan konflik internal yang tak sadar, seperti dorongan agresif dan keinginan seksual yang terpendam. Kemarahan dianggap sebagai mekanisme pertahanan untuk melindungi ego dari konflik emosional yang lebih dalam.
  3. Teori Kognitif: Teori ini berfokus pada peran pemikiran dan interpretasi dalam memicu kemarahan. Menurut teori ini, kemarahan muncul ketika seseorang menafsirkan suatu situasi atau peristiwa sebagai ancaman atau ketidakadilan. Kerangka berpikir, keyakinan, dan penilaian yang distorsif dapat meningkatkan kemungkinan munculnya kemarahan yang berlebihan.
  4. Teori Pembelajaran Sosial: Teori ini menekankan peran pengalaman dan pembelajaran dalam mengembangkan dan memperkuat kemarahan. Kemarahan dapat dipelajari melalui observasi dan pengalaman langsung dengan berinteraksi dengan orang lain. Pola perilaku kemarahan yang dipertontonkan oleh orang-orang di sekitar kita, seperti anggota keluarga atau tokoh penting, dapat menjadi model bagi perasaan dan cara mengungkapkan kemarahan kita.

Teori-teori ini memberikan wawasan tentang bagaimana kemarahan muncul dan berkembang dalam diri individu. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki pengalaman dan faktor pribadi yang unik yang juga dapat memengaruhi cara mereka mengalami dan mengungkapkan kemarahan.

filososi 4 1

Manfaat Kendalikan Kemarahan

Mengendalikan kemarahan pada diri sendiri memiliki banyak manfaat yang penting. Berikut adalah beberapa alasan mengapa mengendalikan kemarahan itu penting:

  1. Kesehatan Mental dan Emosional: Kemarahan yang tidak terkendali dapat merusak kesehatan mental dan emosional kita. Kemarahan yang konstan dapat menyebabkan stres kronis, kecemasan, depresi, serta masalah tidur. Dengan mengelola kemarahan dengan baik, kita dapat mengurangi risiko gangguan mental tersebut dan menjaga keseimbangan emosi yang lebih baik.
  2. Hubungan Antar personal yang Sehat: Kemarahan yang tidak terkendali dapat merusak hubungan interpersonal dengan orang lain. Respon agresif, marah, atau meledak-ledak seringkali membuat orang lain merasa tidak nyaman atau terancam. Dengan mengendalikan kemarahan, kita dapat menghindari konflik yang tidak perlu, membina komunikasi yang lebih baik, dan memelihara hubungan yang sehat dengan orang lain.
  3. Pengambilan Keputusan yang Rasional: Kemarahan yang mendominasi bisa menyebabkan pembuatan keputusan yang impulsif dan tidak rasional. Ketika kita terjebak dalam kemarahan, kita mungkin tidak dapat memikirkan konsekuensi jangka panjang atau melihat situasi secara objektif. Mengendalikan kemarahan membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijaksana dan rasional.
  4. Produktivitas dan Efisiensi: Kemarahan yang tidak terkendali mengganggu konsentrasi, fokus, dan produktivitas. Ketika kita terjebak dalam emosi yang marah, sulit untuk bekerja secara efektif atau menyelesaikan tugas dengan baik. Dalam lingkungan kerja, mengendalikan kemarahan juga penting untuk menjaga hubungan tim yang sehat dan produktivitas kelompok.
  5. Kesehatan Fisik: Kemarahan yang kronis dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik. Reaksi stres yang konstan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, dan masalah kekebalan tubuh. Dengan mengelola kemarahan, kita dapat menjaga kesehatan fisik dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Mengendalikan kemarahan tidak berarti menekan emosi itu sendiri, tetapi lebih pada mengatur cara kita merespon dan meresapi emosi tersebut. Teknik seperti latihan pernapasan, mengelola stres, berkomunikasi yang efektif, serta mempraktikkan empati dapat membantu mengendalikan kemarahan dan mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik.

filosofi 5 1

Sekilas tentang Epictetus

Epictetus lahir di Hierapolis, Phrygia (sekarang bagian dari Turki). Kehidupan Epictetus sendiri kurang diketahui dengan pasti, tetapi ia diyakini sebagai seorang budak yang akhirnya diberi kebebasan. Setelah mendapat kebebasan, ia mendalami filsafat Stoik di bawah bimbingan Musonius Rufus, seorang filosof Stoik terkenal pada masanya.

Epictetus adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Stoikisme dan dikenal karena pemikirannya yang praktis, jujur, serta terpusat pada etika dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan bahwa orang harus menerima takdir dan fokus pada hal-hal yang dapat dikontrol, yaitu pikiran dan tindakan mereka sendiri.

Karya-karya Epictetus yang terkenal adalah Encheiridion (Handbook) dan Discourses. Meskipun tidak ada tulisan langsung dari Epictetus yang masih ada, rekamannya yang disusun oleh muridnya, Arrian, telah memengaruhi pemikiran filsafat Barat dan masih menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang hingga saat ini.

 

EDITOR: Redaksi Krebadia.com