Sauh Terkembang di Lautan Air Mata

Avatar of Gerard Bibang
air mata
(frewaremini.com)

Sauhmu telah terkembang di samudera lara

Di laut-laut tangis dan tawa

Bergelegar sauhmu dengan sorak sorai ‘kami menang, kami menang satu putaran!’

Di atas laut-laut tawa dan tangis, kami melihat uang bertebaran dan karung beras di mana-mana

Terdengar bisik-bisik dalam sunyi: pilih orang itu, jangan pilih orang ini!

Berselancarlah terus di laut-laut tangis dan pilu kami

Berpesiarlah di laut-laut keringat dan sakit hati kami

Berlayarlah di lautan air mata kami

Tertawalah hahahihi di lautan air mata kami

Berselancarlah di lautan air mata kami

Berpesiarlah di lautan air mata kami

 

Hati-hati jangan kau terlena di lautan tangis dan air mata kami

Hati-hati jangan kau hahahihi sambil kentut dan masturbasi di atas laut keringat kami

Awas, awas, awas, di puncak gunung kesabaran nurani kami

Jiwa-jiwa bersatu akan menyalakan lilin dan api yang tak mati-mati

Awas, awas, awas kau terjungkal di suatu saat nanti

Apa sih senjata dan mesiumu itu

Bunyi-bunyi tangis dan air mata kami adalah cadas yang sudah teruji oleh waktu

 

Apakah kau terlalu bebal atau aku yang terlalu peka? ketika kau membagi-bagikan bansos dengan mengendarai mobil tentara dan polisi, masuk keluar kantor negara menggerakkan propaganda dalam sunyi, main kotor berbalut niat suci, sengaja menekuni jalan curang menghalalkan segala cara dan menggilas etika, dengan hahahihi kau mengumpat “mampus kau, mampus kau, asal bukan kau!” apakah kau terlalu bebal atau aku yang terlalu peka?

 

Di pelukan ibu mereka, anak-anak meraung-raung di samping ayah dan ibunya yang perut kempis karena terkapar kelaparan, karena harga beras naik tak kira-kira, tiada angin tiada hujan; sementara dari jauh terdengar dari speaker stereomu tawa hahahihi ‘kami menang, kami menang satu putaran!’

 

Asap hitam mengepul di Senayan; asap hitam mengepul di Harmoni dekat Istana; asap hitam mengepul di daerah-daerah di mana-mana berlapis-lapis gelap; kekuasaan dengan darah dingin terus menggerus yang lemah; keganasan kekuasaan dengan bangga melalap segala kekerasan dan mencabik-cabik persaudaraan; kengerian mencekam; mayoritas diam bukan berarti tidak buat apa-apa; akal sehat dikangkang, yah, memang harus dilawan; kebangetan-kebangetan bodohnya; keterlaluan keterlaluan indiferensinya; hati kami meronta suatu saat ibu pertiwi kami bersimbah darah; ah, jangan-jangan terulang lagi peristiwa tahun 98; awas, awas, awas, jangan-jangan sampai terulang lagi; ingat-ingat, ingat, sejarah selalu kembali

(gnb:tmn aries:jkt:kamis:7.3.24)