Tanda Baca dan Simbol Matematika

Avatar of Ditulis oleh Bonefasius Rampung
Screenshot 20240617 022803

Dalam suatu kesempatan menghadiri upacara pemakaman seorang imam, kami sempat rehat sejenak bersama beberapa orang termasuk beberapa orang alumni Sanpio. Seperti biasa, perjumpaan seperti ini, kadang-kadang dianggap sebagai “reuni kecil”. Ada banyak topik yang dibicarakan mulai dari hal yang terkesan minor (sedih), serius sampai pada hal yang sifatnya remeh-temeh yang mengundang gelak-tawa.

Dalam topik FBI edisi ini, kami mengangkat salah satu topik “remeh-temeh” yang muncul dalam perjumpaan ini. Salah seorang, berkomentar tentang cara membaca NASKAH Kitab Suci yang dipakai dalam perayaan Ekaristi Pemakaman yang baru saja dilalui. Intinya, cara membacanya bagus dan mengesankan bagi semua peserta perayaan.

Menanggapi komentar yang mengesankan ini, seorang seakan-akan terdorong untuk bercerita tentang pengalamannya mendengarkan orang membaca naskah yang dalam upacara untuk konteks yang lain. Diceritakannya bahwa suatu kesempatan seremonial bernuansa akademis, seorang yang diberi tugas membacakan surat keputusan dan ia membacakannya demikian, “Berdasarkan Surat Keputusan nomor titik dua kosong empat lima strep miring kali titik ce kurang dua strep kosong tiga strep dua puluh dua puluh tiga”. Nomor surat keputusan yang dibacakan itu tertulis seperti ini “No:045/X.c-2/03/2023”. Semua kami tertawa ketika mendengarkan cara membaca seperti yang diceritakan ini.

Seperti “gayung bersambut” satu orang lagi bercerita tentang pengalamannya ketika menghadiri ibadat di salah satu pedalaman. Kisahnya, mirip-mirip meskipun teks yang dibacakan itu berkaitan dengan ayat-ayat kitab suci. Teks yang dibaca diambil dari surat pertama kepada jemaat di Korintus  yang lazimnya ditulis “1Kor, 2: 6-16”. Oleh pembaca (lektor) teks ini dibacanya menjadi, “ Pembacaan dari satu kor koma dua bagi enam kurang enam belas”. Kisah kedua ini juga tidak kalah menggelikan dan mengundang gelak-tawa pengocok isi perut.

Dalam konteks kedukaan, dua kisah ini cukup baik menepis rasa duka. Lebih jauh dari sekadar  joke penetral duka kedua kisah ini sebenarnya menghadirkan masalah pokok yang saat ini lagi “trend” yakni persoalan Literasi. Pertanyaannya, “Persoalan Literasi apa yang bisa dimunculkan dalam dua cerita tadi? Jawabannya, tentu Literasi baca-tulis (bagaimana cara membaca tulisan sesuai dengan kaidah yang berterima.  Dua kisah yang terseksan “remeh-temeh” ini bertalian dengan literasi “tanda baca” dan “simbol operasi matematika.

Cara membaca nomor surat keputusan dalam cerita pertama sesungguhnya pernah diulas dalam FBI ini sebelumnya (lihat topik: Kosong, Garing, Strep) meskipun ulasannya terbatas pada penyebutkan lambangan bilangan yang seharusnya dibaca nol tetapi dibaca kosong. Hal khusus yang  perlu dijelaskan terkait cara membaca dalam cerita pertama tulisan X yang dibaca sebagai simbol matematika (perkalian) padahal X merupakan bilangan romawi yang setara dengan sepuluh. Mestinya dibaca sebagai sepuluh romawi bukan kali. Pembacaan yang benar untuk tulisan 045/X.c-2/03/2023 adalah “nol empat lima, garing sepuluh romawi, titik c, datar dua, nol tiga, garing dua ribu dua puluh tiga”

Pada cerita kedua, kita menemukan persoalan terkait literasi tanda baca dan simbol matematika. Tulisan atau teks “1Kor, 2: 6-16” sama sekali tidak berkaitan dengan operasi atau penghitungan matematika terkait pembagian dan pengurangan. Teks dimaksud hanya memuat tanda baca bukan simbol matematika. Tanda baca titik dua (:) yang dibacakan sebagai tanda pembagian (bagi) dan tanda hubung (-) yang dibaca sebagai tanda pengurangan (kurang).

Dalam kaidah dan pedoman berbahasa dikenal lima belas tanda baca yakni tanda Titik (.); tanda Koma (,); tanda Titik Koma (;); tanda Titik Dua (:);tanda Hubung (-); tanda Pisah (—); tanda Tanya (?); tanda Seru (!); tanda Elipsis (…); tanda Petik (“…”); tanda Petik Tunggal (‘…’); tanda Kurung ((…)); tanda Kurung Siku ([…]); tanda Garis Miring (/); tanda Penyingkat atau Apostrof (‘).

Tanda baca titik dua (:) dan tanda hubung (-) merupakan dua tanda baca yang menjadi perhatian khusus dalam ulasan ini. Dalam  kitab PUEBI, dijelaskan kaidah pemakaian tanda baca titik dua (:) ini (1) pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan (2) dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian (3) dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan (4) dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka. 

 

Kita temukan di sini, kaidah pemakaian tanda titik dua (:) yang berkaitan langsung dengan cerita kedua. Kita temukan pada butir 4b. Kitab PUEBI mencantumkan salah satu contoh penulisan teks Alkitab Matius 2: 1—3. Teks ini mestinya dibaca “Matius pasal dua ayat satu sampai dengan tiga bukan *Matius dua bagi satu kurang tiga. Frasa “sampai dengan” dalam contoh teks ini ternyata bukannya merujuk pada tanda hubung yang dibaca “kurang”. Persoalan tentang tanda hubung dan tanda pisah ini, juga sudah diulas dalam topik sebelumnya.

Cara membaca yang salah dalam cerita kedua terjadi karena pemahaman yang benar (literasi) terkait tanda baca dan simbol matematika belum memadai sehingga terkesan mencampuradukkan dua hal yang berbeda.

 Untuk membedakan dan demi ketepatan penggunaan tanda baca titik dua (:) dan tanda hubung (-) dalam teks kitab suci dari cara  penggunaannya sebagai simbol matematika, pengguna bahasa  harus memperhatikan konteks dan fungsi penggunaannya tanda baca dan simbol matematika tersebut.

Untuk konteks teks Kitab Suci: tanda baca titik dua (:) dan tanda hubung (-) biasanya digunakan dalam teks kitab suci terkait urutan nomor pasal dan ayat, serta rentang ayat dalam pasal tertentu. Sementara itu, untuk konteks simbol matematika tanda titik dua (:) dan tanda hubung digunakan dalam  operasi matematika seperti pemisahan bagian dalam urutan, pengurangan, atau penghubungan rentang numerik. Bandingkan saja cara penulisan berikut dan cara membacanya. Jika teks Kitab Suci “Roma 8:1-4” berarti  dan harus dibaca sebagai pasal 8, ayat 1 sampai 4 dalam Surat Santu Paulus kepada jemaat di Roma. Simbol Matematika: “6 – 2 = 4” artinya 6 dikurangi 2 sama dengan 4.

Dengan memahami konteks dan penggunaannya secara tepat seperti ini, pembaca dapat membedakan antara penggunaan tanda titik dua dan tanda hubung dalam teks kitab suci dengan penggunaannya sebagai simbol matematika. Memang tidak mudah. Gerakan Literasi tentu saja tumpuan dan harapan membebaskan masyarakat dari kesalahan seperti yang dikisahkan.