Tangis Menyatu Teriakan Nyawa

Avatar of Gerard Bibang
WhatsApp Image 2023 09 19 at 09.10.01

Nyawa … nyawa … nyawa…! itu diembuskan oleh Tuhan; dielus-elus dan disayang-sayang-NYA; bahkan nyawa setiap ekor kodok; bahkan nyawa cacing yang menggeliat-geliat; dijaga oleh-NYA dalam tata kosmos keseimbangan

Menculik dan meniadakan nyawa bukan hak makhluk; kecuali makhluk itu mencurinya dari Tuhan; siapakah makhluk seperti itu kalau bukan penculik, peniada dan pembunuh? kini dia tampil sebagai pembawa kesejahteraan bagi nusa dan bangsa; siapa yang percaya; jangankan manusia, semut-semut pun sudah tahu; tembok penjara menjadi saksi bisu

Tuhan sangat bersungguh-sungguh dalam mengurusi setiap tetes embun yang IA tampung di sehelai daun; Tuhan menyayangi dengan sepenuh hati setiap titik debu yang menempati persemayamannya di tengah ruang dan waktu

Nyawa … nyawa … nyawa! menggembur dan menggelora udara keruh ibukota; terdengar tangis dari kawasan-kawasan ramai; di tengah keringat dan hura-hura orang jalanan hilir mudik; tangis menyatu teriakan nyawa, berkata: orang ini penculik! jangan pilih orang ini!

Penculik memang selalu menyelinapkan sebuah pisau rahasia; menunggu saat penikaman tiba; gemuruh ibukota dijelmakannya menjadi surga dan neraka; siapa yang mengambilnya, nyawa melayang tanpa ditunda-tunda

Lalu hujan turun; yah, hujan turun; ibukota adem dan bebas debu; tapi teriakan nyawa, nyawa, nyawa, kian lantang; toh hujan itu hanyalah rekayasa akibat berton-ton garam dilemparkan ke angkasa; itu toh yang dimaui oleh orang ini, sang calon pemimpin itu; hujan ya, hujan sudah lama turun; derasnya air mata kami tidak akan surut

Tangis menyatu teriakan nyawa adalah khasiat rasa aman; adalah mukjizat yang memancarkan cahaya di wajah; adalah kharisma dan kekebalan dalam jiwa raga; tempat engkau dan aku berlindung dan bergantung untuk menitipkan cita-cita dan pamrih; bersama turunnya bulir-bulir air mata lirih

Tangis menyatu teriakan nyawa menjadi pelawanan sunyi; menjadi sandaran punggung kehidupan, bersama dan sendiri-sendiri; menjadi pedoman dasar tempat menyerahkan seluruh kebijaksanaan dan kearifan; menjadi ketenteraman batin yang tersimpan rapi di dalam sanubari; selalu tersemai oleh tangis sunyi

Gelora hawa panas ibukota bisa saja dikeruh-keruhkan penuh debu; membuat batas antara benar dan salah setipis kain sutera ungu; bisa saja gelora panasnya menjadi kaca mata yang membuat matahari tak bisa langsung mencuci selaput mata; yang membuat angin bertiup memedihkan; yang membuat ambyar di depan kesaktian kenyataan; yang menjadi luntur dalam cairan busuk kehidupan; yang membuat sukma bahagia meski dalam sengsara

Akhir-akhirnya tangis menyatu teriakan nyawa-lah yang menjaga akal sehat dari mati suri; yang merawat cinta kasih dari kendornya kesetiaan; yang memuliakan martabat dari cara pandang sempit dan nyinyir; yang akhir-akhirnya mengantarkan setiap diri ke hakikat yang asli ialah hakikat tiada; kita adalah makhluk yang ada awalnya dan akhirnya

Lihatlah angkasa biru ibukota; terombang-ambing oleh seribu rayuan; oleh seribu pidato yang menggebu-gebu; oleh seribu janji dan bujukan; oleh serbuan berjuta informasi tanpa perlu engkau setuju; yang akhir-akhirnya membuat kebingungan; sudah tidak tahu, mana utara-selatan, mana barat dan timur

Lihatlah semuanya menjadi buram; oleh tangis menyatu teriakan nyawa, diambillah semuanya terlarung ke angkasa; menjelma cermin di mana kita melihat hidup kita terperangkap dalam satu cahaya; yah, menjadi jelas siapa kita sejatinya: kita bukanlah apa-apa; jangan-janganlah mengambil hati kami; hanya karena niatmu meraup suara demi menjadi pemimpin; air mata kami berteriak: jangan pilih penculik! lihat punggung-punggung kami, berkata: orang baik tidak pilih penculik!

 

(gnb: tmn aries:jkt: medio sept ‘23)


gerard bibang, wajah, daun-daun kering, Tikungan Dungu nyawaGerard N. Bibang, alumnus IFTK Ledalero, dosen, dan penyair, mantan jurnalis-penyiar radio Deutsche Welle Jerman dan Radio Nederland Wereldomroep Belanda.