Tentang Rektor Unika St. Paulus Terpilih, Kaprodi Maria Tarsisia Luju: Siapa pun, Unika Harus Semakin Berkembang

Avatar of Etgal Putra
IMG 7139 e1684652223739

KAPRODI PETERNAKAN — Maria Tarsisia Luju, S.Pt, M.Pt, Ketua Program Studi (Kaprodi) Peternakan Unika Santu Paulus Ruteng berfoto di photo booth yang disiapkan panitia di teras Gedung Utama Timur Unika, saat perayaan ulang tahun ke-64 Unika, Sabtu 20 Mei 2023.
FOTO: Maria Tarsisia/Facebook

KrebaDi’a.com — Salah satu hal menarik dari perayaan ulang tahun (ultah) Universitas Katolik (Unika) Santu Paulus Ruteng, Sabtu 20 Mei 2023, adalah kabar kabur siapa rektor periode 2023-2027. Menurut Ketua Program Studi (Kaprodi) Peternakan Maria Tarsisia Luju, S.Pt, M.Pt, siapa pun orangnya Unika St. Paulus Ruteng harus semakin berkembang.

Kaprodi Maria Tarsisia Luju dimintai tanggapannya oleh KrebaDi’a.com di sela bazar ekonomi kreatif (ekraf) mahasiswa di halaman Kampus Unika Santu Paulus Ruteng, Jalan Ahmad Yani 10, Ruteng, Kabupaten Manggarai.

“Semoga siapa pun rektor yang terpilih dapat mempertahankan hal baik yang sudah dibangun oleh lembaga ini hingga saat ini,” katanya.

Lebih dari itu, menurutnya, rektor periode 2023-2027 siapa pun orangnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi Unika Santu Paulus Ruteng yang telah diraih selama ini.

“Harapan saya, unika semakin berkembang ke hal yang lebih positif,” katanya.

Tentang hal yang membanggakan dari Unika Santu Paulus Ruteng, kaprodi peternakan ini menyebut toleransi beragama.

“Ini bisa dilihat dari dosen, pegawai, mahasiswa yang non-Katolik bisa bekerja dan berkuliah di sini. Bahkan di acara besar seperti hari ini (ultah ke-64 Unika Santu Paulus Ruteng), mereka juga diundang, terlibat aktif dan ikut merayakan acara dengan baik,” kata Magister Peternakan jebolan Universitas Brawijaya Malang ini.

Maria Tarsisia Luju menyukai lingkungan Unika Santu Paulus Ruteng yang begitu asri.

“Nuansanya bagus banget buat mahasiswa belajar dan dosen mengajar,” katanya.

Baca Juga: Dari Ultah Ke-64 Unika St. Paulus Ruteng: Mahasiswa Bangga Belajar Berwirausaha secara Nyata

Dalam penelusuran KrebaDi’a.com ke web http://repository.ub.ac.id diperoleh informasi bahwa untuk meraih jenjang Magister di Universitas Brawijaya, Maria Tarsisia Luju menulis tesis (2019) berjudul “Estimasi Parameter Genetik dan Nilai Pemuliaan Produksi Susu Sapi Perah Friesian Holstein di Bbptu-Hpt Baturraden“.

Dalam Abstract dikemukakan tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui potensi genetik sapi perah melalui pendugaan parameter genetik dan perhitungan nilai pemuliaan produksi susu.

Materi yang digunakan dalam penelitiannya adalah sapi perah FH yang memiliki rekording bobot sapih dan bobot dewasa yaitu 113 ekor tetua yang terdiri dari 13 ekor pejantan dan 100 ekor induk; sapi perah FH yang memiliki rekording produksi susu periode laktasi pertama.

Metode penelitiannya adalah studi kasus. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah rekording bobot sapih, bobot dewasa dan produksi susu.

Hasil penelitiannya tiba pada simpulam bahwa seleksi terhadap performans bobot sapih dan bobot dewasa induk dapat meningkatkan potensi produksi susu keturunannya sehingga baik bobot sapih maupun bobot dewasa induk dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk seleksi.

Kabar Kabur Pemilihan Rektor

Soal pemilihan rektor Unika Santu Paulus Ruteng, seperti diberitakan KrebaDi’a.com, hingga kini publik belum mengetahui siapa rektor terpilih masa jabatan 2023-2027.

Baca Juga: Siapakah Rektor Unika St. Paulus Terpilih? Prof. John Lon ataukah Dr. Maks Regus?

Diberitakan sebelumnya bahwa pemilihan rektor sudah dilakukan oleh senat pada Rabu 17 Mei 2023, bertempat di Ruang Senat, Gedung Utama Timur Lantai VI, Kampus Unika St. Paulus Ruteng, Jalan Ahmad Yani 10, Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Kandidatnya dua orang, yakni Prof. Dr. Yohanes Servatius Lon, M.A. (petahana rektor) dan Dr. Maksimal Regus, S.Fil, M.Si. (dekan FKIP).

Sejauh ini rilis resmi dari Unika Santu Paulus tentang hasilnya belum ada. Kapan rilis resminya keluar tidak bisa dipastikan oleh pihak kampus karena — menurut hasil penelusuran KrebaDi’a.com — proses selanjutnya bukan kewenangan senat lagi, melainkan kewenangan Yayasan Santu Paulus (Yaspar) selaku badan hukum penyelenggara unika.

Dalam yayasan tersebut, uskup Ruteng adalah ketua dewan pembina. Dengan kata lain, pemegang otoritas tertinggi dalam menentukan siapa rektor Unika Santu Paulus Ruteng adalah uskup Ruteng.

Adapun yang dilakukan senat pada Rabu 17 Mei 2023 itu hanya sebatas pemilihan bakal calon rektor atau paling jauh pemilihan calon rektor, bukan pemilihan rektor. Yang pilih rektor itu uskup selaku ketua dewan pembina Yaspar, tentu melalui rapat dewan pembina dan organ yayasan lainnya.

Rektor Tanggung Jawabnya Lebih

Sekadar gambaran betapa besarnya peran dan tanggung jawab rektor sebuah perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi swasta (PTS) seperti Unika Santu Paulus Ruteng, berikut ini butir pemikiran dari berbagai sumber.

Hal pertama yang perlu diketahui, secara fungsional dan akademis rektor itu sama dengan dosen yang lain. Bedanya, rektor memiliki tanggung jawab dan beban kerja lebih di luar Tri Dharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian, dan pengabdian).

Baca Juga: Perayaan Ultah Ke-64 Unika St. Paulus Ruteng Dipuji Karena Peduli Ekonomi Berkelanjutan

Rektor dalah dosen yang diberi tugas tambahan selama periode tertentu, biasanya per empat tahun, melalui jabatan struktural.

Khusus PTS ada tantangan tersendiri. Lebih berat dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri (PTN) yang aturannya sudah ditetapkan Kemendikbudristek.

Tantangan tersendiri itu menuntut rektor PTS memiliki tanggung jawab, kualifikasi, hingga kematangan kepribadian tersendiri pula.

Sinergis dengan Yayasan

Ini soal keuangan. Khusus di PTS, selain menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, rektor bertanggung jawab atas keberlanjutan PT, teristimewa menyangkut pencarian dan pengelolaan keuangan.

Sebab, biasanya sumber utama dana PTS adalah biaya kuliah mahasiswa selain sumber tambahan lain.

Dalam kaitan dengan ini, rektor yang terpilih oleh senat idealnya rektor yang bisa sinergis bekerja sama dengan yayasan sebagai badan hukum penyelenggara PTS.

Dengan dana memadai, perkuliahan akan bermutu. Dosen dan pegawai sejahtera. Timbul kepercayaan dari masyarakat. Animo berkuliah ke PTS pun tinggi.

Kemampuan Akademik Mumpuni

Rektor harus punya kemampuan akademik yang mumpuni. Maka sebaiknya rektor itu doktor dengan jabatan akademik profesor atau minimal lektor kepala.

Kriteria seperti ini akan mendorong para dosen studi lanjut dan berlomba menaikkan jabatan akademik mereka.

Dampak lanjutannya, citra PTS jadi positif dan reputasinya tinggi. Ujung-ujungnya animo yang berkuliah ke sana meningkat.

Punya Jiwa Kepemimpinan

Rektor harus memiliki jiwa kepemimpinan. Bekalnya adalah pengetahuan dan pengalaman. Dengan itu, rektor bisa membimbing dan memotivasi tim kerja.

Rektor harus mampu memberikan pengaruh positif kepada tim kerja. Idealnya, ia panutan oleh karena karakternya yang kuat dan nilai-nilai anutannya yang adiluhung.

Dia diidealkan mampu merangkul kerja sama, bahasa Manggarai-nya “anggom“. Tidak berkerja sendirian. Menghargai aspirasi tim untuk mencapai tujuan bersama.

Dipersyaratkan, dia juga komunikator dan mediator andal ke dalam. Pendengar dan penasihat yang baik. Tahu memilih anggota tim yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat. Tidak menjadi batu sandungan bagi yang lain.

Baca Juga: Ultah Ke-64 Unika St. Paulus Ruteng: Dibuka dengan Misa, Ditutup dengan Pameran Ekraf Mahasiswa

Dia dituntut memiliki manajemen emosi yang baik. Tanggung jawab yang tinggi dan beban kerja yang tak enteng menuntut seorang rektor tidak menjadi intelektual sumbu pendek. Hati boleh panas, kepala tetap dingin. Itu persyarat kerja yang sehat. Marah itu gila yang singkat, kata sebuah pepatah bahasa Latin.

Sudah Selesai dengan Diri Sendiri

Ini soal kematangan diri. Idealnya, rektor itu seseorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Dia tidak cari apa-apa lagi untuk dirinya sendiri. Yang dia cari hanyalah apa yang terbaik untuk kemajuan lembaganya.

Rektor yang sudah selesai dengan dirinya sendiri akan lebih mudah berperan sebagai pelaku utama citra dan reputasi lembaga.

Sosok yang sudah selesai dengan dirinya sendiri lebih mudah terpercaya sebagai sosok yang mewakili lembaga. Tidak hanya menjadi citra, ia juga faktor penentu dan ujung tombak keberhasilan lembaga.

Rektor yang sudah selesai dengan dirinya sendiri lebih terjamin dalam kesiapan, integritas, totalitas, dan kemampuan di berbagai aspek meliputi pengetahuan, pengalaman, dan kualitas tertentu.

Pentingnya Meristokrasi

Oleh karena itu, kandidasi rektor harus melalui sistem meristokrasi. Melalui penjenjangan karier akademik yang ketat. Memenuhi segala persyaratan lain yang harus ketat juga.

Pemilihannya pun mesti adil, jujur, dan demokratis.

Baca Juga: Siapakah Rektor Unika St. Paulus Terpilih? Prof. John Lon ataukah Dr. Maks Regus?

Karena pentingnya peran seorang rektor bagi keberlanjutan PTS, seleksi dan pemilihannya perlu dilakukan secara hati-hati dan sangat selektif.

Dalam kaitan dengan itu, peran yayasan sangatlah strategis. Sebab, di PTS, rektor itu dipilih melalui statuta yang diatur oleh yayasan sebagai badan penyelenggara. Sedangkan di PTN aturannya ditetapkan oleh Kemendikbudristek. 

Editor: Redaksi KrebaDi’a