Aku kira banteng, ternyata kebo; aku kira macan, ternyata meong; aku kira cerdas, ternyata bego; aku kira prajurit, ternyata penjilat peko; aku kira taat nurani melalui layar kaca dan tulis-menulis, ternyata aiuaiuuuu pergi ke mana angin; aku kira manusia, ens rationale, ternyata hewan, ens non rationale
Engkau marah: wuallah kayak loe pintar sendiri aja; iyah, aku tidak bodoh; apa itu kebodohan, tanyamu lagi; ini jawabku: kebodohan ialah tahu mana yang sebenar-benarnya benar tetapi mempercayai kepalsuan dan memperkatakannya ke mana-mana
Apakah mereka-mereka itu disebut manusia? tentu saja iyah; hanya ia sebagai makhluk tanpa akal, sebagai ens non rationale
Wahai sahabatku, manusia tidak disebut pohon atau kambing karena ia punya filosofi; kalau alam, ia adalah makhluk yang orisinal mengalami sesuatu tanpa harus menyadari dan merumuskan pengalamannya; kalau manusia, punya perangkat yang membuatnya bisa mengambil jarak intelektual dari orisinalitas dan otentisitas kemakhlukannya
Ini kukatakan kepadamu sahabatku: karena bukan hewan, maka manusia punya perangkat yang namanya akal; akal bekerjasama dengan hati, hati itu nucleus-nya kalbu, nukleus-nya nurani; manusia berlayar di samudera pertanyaan-pertanyaan; perahunya akal; kemanusiaannya benar-benar manusia karena dia punya etika; itulah layar penentu arahnya nurani; tanpa etika, manusia tidak bisa disebut manusia; ia hanyalah robot-robot yang ke sana ke mari mengikuti angin; mana utara dan selatan menjadi kabur; ia tidak tahu bahwa ia tidak tahu! absurd kan? gelap kan? negerimu gelap kan?
Wuallah, dunia seperti itu kayak apa ya; tentu tidak nyata, sahabatku; yang tampak adalah als ob, hanya seolah-olah; maka-nya engkau kira singa, ternyata meong! engkau kira banteng ternyata kebo dan hobinya main homo dan kebo-keboan; engkau kira gagah perkasa, ternyata penjilat bego; engkau kira manusia ternyata benar-benar hewan
(gnb: tmn aries;jkt:minggu:16.3:2025)