Gagak-Gagak Hitam

Oleh Gerard N. Bibang

Kolom54 Dilihat
banner 468x60

Gagak-gagak hitam

Terbang menggelap menggelitir menggelepar

banner 336x280

Lupa dari mana mereka terbang

Terbang terus terbang, menggelap hitam

Angkasa gelap, nusantara gelap, indonesia gelap

Bumi menggeliat dalam bunyi nafiri seperti di akhir zaman

Di mana-mana gelap, menggelitir, meringis, menggelepar

 

Hei gagak-gagak hitam! gagak jantan, gagak betina, gagak antara jantan dan betina, gagak homo dan alay-alay; beginilah kalau lupa dari kamu terbang; aku ini siapa? kamu pikir aku siapa? kamu panggil aku tanpa nama; tak penting memang namaku siapa; aku hanya rakyat; rakyat-lah namaku; kamu tahu itu; meskipun derajatku kurang cukup memadai untuk bernama rakyat; aku tidak memiliki gaji; kalaupun ada gaji cukup untuk sehari untuk kerja seharian selama berjam-jam; kecuali siang hari, aku selalu makan di rumah; dibiayai  bapakku ketika remaja dan membiayai istri dan anakku ketika dewasa sampai tua bangka

 

Tolong jangan remehkan hidupku; aku, rakyat-lah yang memberimu sayap-sayap merah putih; tapi mengapa kamu mengubahnya ke warna gelap; aku memang orang kecil, orang pinggiran, kampoenger, ata kampong, orang kampung tapi tidak kampungan; coba lihat, upahku kecil tapi nilai moralnya tak terhingga; sebab aku telah membayarkan tenaga, keringat, pikiran, hati, bahkan harkat kemanusiaanku untuk bumiku tempat berpijak; untuk sayap-sayap merah putih yang aku kenakan kepadamu buat terbang; untuk membayar pajak, memberimu pakaian gagah; tapi kamu katakan aku kampungan; hehehehe, siapa yang kampungan sejatinya?

 

Kamu berkata, wuallah, semua kita cari makan dengan cara berbeda; caramu, caraku, my own way, bersatu di langit biru; baiklah gagak-gagak hitam, ini memang bukan soal manusia; ini soal bagaimana mengganjal perut; dari jam ke jam, aku mengais humus, dari hari ke hari; sebab meskipun hari berhenti, laparku tetap harus diatasi

 

Ini soal kelancaran detak jantung, memang; ini kenyataan! seperti kambing pun punya sial untung; kambing menjelajah lapangan rumput; penuh perutnya; lantas minum di kali; aku lebih dari sekadar kambing; aku mampu memberimu makan; kamu minta, aku berikan

 

Hei gagak-gagak hitam; ini soal lebih dari kelas kambing; ini soal keutamaan menjadi manusia; ini soal panggilan membangun negeri; demi peningkatan ekonomi; demi nasionalisme yang suci; pokoknya kerja, kerja, kerja; bayar pajak, bayar pajak demi negeri; karena leluhurku pernah bertitah: hidup tak boleh berpamrih, meskipun nyawa merintih-rintih; karena nyawaku Pancasila pernah berucap: berjuang itu mulia, bermalas-malasan dan korupsi itu, sangat hina; bahkan secara berlebihan kalau perlu aku berikan; silahkan, ini darahku yang merah legam untuk kamu teguk sebagai minuman

 

Lalu, salahku apa? jahatku apa? mengapa kamu begitu jahat kepadaku, merampas hak-hakku, merangsek milikku, menagih terus dariku ini dan itu untuk kamu berfoya-foya di singgasana megah?

 

Kurangku apa? ikhtiar suciku kurang apa? selama ini lancar-lancar saja; mengapa kamu begitu kejam kepadaku dan bumiku? tak cukupkah apa yang kamu ambil dan keruk dari perut bumiku?

 

Kurangku apa? salahku apa? aku ini sudah kamu perlakukan begitu multidimensional; menurut ilmu filsafat politik; aku, rakyat-lah yang tertinggi; sedangkan raja, presiden dan kepala negara mengabdi kepadaku; mereka tidak lebih dari seorang abdi; begitulah yang esensialnya; meskipun karena ini dan itu, bohong sana bohong sini, pongah sana pongah sini, yang terjadi ialah sebaliknya

 

Kurangku apa, coba! menurut hitung-hitungan ilmu ekonomi, aku, rakyat ialah semacam kerbau yang dicocok hidungnya; yang diwajibkan membajak sawah, dalam keadaan lapar atau kenyang

 

Adapun menurut ilmu kebudayaan, aku, rakyat ialah sampah-sampah yang kintir di sungai; yang terseret sampai ke laut; yang terapung-apung dan yang  nasibnya bergantung ke mana gelombang mengarah pergi

 

Dan menurut ilmu teknologi modern, kurangku apa, coba; aku, rakyat  ialah sekrup mesin; yang dipakai selagi masih punya tenaga; yang dibuang kalau karatan; persis seperti para kerbau; dicambuk kalau loyo; dan jika tenaganya habis, disembelih dan diiris-iris

 

Apa aku kurang bijaksana? maafkanlah kalau memang ya; sebab kebijaksanaan bukan milikku; bahkan diriku pun bukan bukan hakku; tetapi kamu? mengapa berlagak TUHAN bagiku?

 

Apa aku kurang berani? ah, hanya soal waktu menjadi bunga api; di dalam darah merahku mengalir keutamaan yang tak dapat ditawar-tawar; ialah berani untuk hal-hal bernilai; ini soal waktu untuk bertemu; di tikungan senja, kamu dan aku akan tahu; semua dari dari debu dan kembali menjadi debu

 

Apa aku kurang tolol? ah, siapa yang tolol? yang aku tahu, stupidity itu adalah tahu mana yang benar tetapi lebih mempercayai kebohongan dan terus menerus memperkatakannya supaya orang menerima kebohongan itu sebagai kebenaran; nah, siapa yang tolol kalau begitu? kamu atau aku?

 

(gnb:tmn aries:rabu:19.3.25)

 

banner 336x280